TRIBUNSHOPPING.COM - Di sebuah rumah sederhana di kawasan Griya Ahsani, Genengan, Mojosongo, Jebres, Solo, seorang ibu rumah tangga berusia 60 tahun membuktikan bahwa ketekunan, kreativitas, dan semangat pantang menyerah mampu menghidupkan sebuah usaha kerajinan yang kini dikenal dengan nama Bien Craft.
Ialah Liem Lie Bien, perajin sekaligus pemilik dari Bien Craft, yang memulai perjalanan usahanya lebih dari 15 tahun lalu dari dorongan sederhana: ingin tetap produktif sambil membersamai anak-anaknya di rumah.
“Dulu anak-anak masih kecil. Saya ini dasarnya nggak bisa diem. Jadi sambil ngasuh anak, saya pengen tetap berkegiatan, ya sekalian cari tambahan pemasukan juga,” ujar Liem Lie Bien, saat diwawancara oleh Cenderaloka, Selasa (10/06/2025) kemarin.
Awalnya, Bien Craft tidak langsung terjun ke dunia kerajinan tangan.
Baca juga: Kisah Inspiratif Bien Craft: dari Ibu Rumah Tangga Aktif Jadi Perajin Buah dari Konsistensi
Liem Bien memulai dengan menjahit baju pesta dan pengantin atas permintaan teman dan kerabat.
Namun, karena tidak nyaman dengan tekanan deadline dan ekspektasi cepat dari pelanggan jahit, ia kemudian mencari bentuk usaha lain yang lebih fleksibel.
Dari sanalah muncul ide membuat pot, souvenir, dan berbagai kerajinan tangan lainnya.
“Lama-lama saya lebih suka bikin kerajinan. Nggak kejar-kejaran waktu, bisa saya kerjakan sambil duduk santai di rumah,” imbuhnya.
Eksistensi di Pasar UMKM Lokal
Bien Craft telah malang melintang di berbagai event UMKM lokal di Solo.
Sejak awal, Bien menjadi salah satu peserta rutin di Night Market Ngarsopuro, yang menurutnya kini semakin ramai dan berkembang.
Ia juga pernah beberapa kali lolos seleksi pameran UMKM di pusat perbelanjaan ternama seperti Solo Square dan Paragon Mall.
Bahkan saat ini, Bien Craft sedang mengisi stand selama dua bulan penuh di Paragon Mall sebagai satu dari sebelas UMKM pilihan koperasi.
Sebelum pandemi, Bien Craft bahkan rutin mengikuti program pendampingan UMKM selama enam bulan yang digelar oleh dinas terkait.
Walau sempat terhenti karena pandemi, kesempatan-kesempatan baru terus berdatangan hingga saat ini.
Proses Kreatif dan Ragam Produk
Produk Bien Craft sangat beragam—dari kerajinan kayu hingga kain, terutama yang berbahan batik.
Untuk produk kayu, Bien mengaku merancang desainnya sendiri, lalu menyerahkan proses produksi kepada perajin rekanan.
Setelah jadi, ia akan mengemas dan menghias ulang agar tampil menarik saat dijual.
Sementara untuk produk berbahan kain batik, ia membeli langsung bahan dari Jogja atau tempat-tempat seperti toko batik, bandara, toko oleh-oleh, dan masih banyak lagi..
“Saya cari sendiri, nggak kerja sama vendor. Tapi kalau soal pemasaran, saya titip produk di beberapa tempat seperti Batik Hamzah, Oleh-oleh Krisna, dan Bandara Jogja maupun Semarang,” katanya.
Baca juga: Julia Craft: Optimisme di Tengah Banyaknya Pesaing Modern Tanpa Meninggalkan Nilai Kerajinan
Menariknya, meskipun di beberapa tempat seperti Oleh-oleh Krisna brand pribadi tidak bisa ditampilkan, Bien Craft tetap mendapatkan keuntungan karena produk dianggap laku sejak dikirim dan dibayar satu bulan kemudian.
Sementara di Batik Hamzah atau Batik Gunawan Setiawan, brand Bien Craft tetap diizinkan terpampang.
Menjaga Kualitas dan Orisinalitas
Ketika ditanya bagaimana menjaga kualitas di tengah persaingan dan banyaknya produk tiruan, Bien menjawab dengan tenang dan bijak.
“Ya dijaga saja. Kalau dulu pakai jenis batik tertentu, ya tetap dilatih pakai yang itu. Kalau harga bahan naik ya dinaikkan juga harganya, tapi kualitas tetap dijaga,” tegasnya.
Ia tidak terlalu ambil pusing bila ada produk Bien Craft yang ditiru pihak lain.
Baginya, yang penting adalah terus fokus pada diri sendiri dan berkarya lebih baik.
“Ngapain mikirin orang lain. Fokus bikin yang lebih kreatif, lebih bagus. Mereka juga punya mata dan ide sendiri. Nggak usah terpancing,” ujarnya sambil tersenyum.
Kontribusi terhadap Ekonomi Kreatif
Saat ditanya apakah Bien Craft sudah turut memberi kontribusi dalam perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia, Liem Bien merendah.
“Mungkin sedikit ada dampaknya, tapi belum banyak. Namanya juga usaha rumahan. Belum sekelas UMKM besar, saya merasa masih merintis,” katanya.
Meski begitu, ia bangga karena telah konsisten mengikuti berbagai program UMKM dan terus belajar dari setiap kesempatan yang ada.
Setidaknya, pengalaman demi pengalaman telah menjadi modal penting dalam mengembangkan usaha ke depan.
Pesan untuk Generasi Muda
Menutup perbincangan, Bien menyampaikan pesan penting kepada generasi muda yang ingin merintis usaha di bidang kerajinan.
“Yang penting itu disiplin dan serius. Banyak orang yang kurang menghargai waktu. Padahal, janji itu harus ditepati," tuturnya.
"Kelihatannya sepele, tapi dampaknya besar. Kalau mau bikin produk bagus, yang dibenahi dulu itu diri sendiri. Jangan cuma fokus pelatihan produk, tapi juga pelatihan sikap dan kedisiplinan,” tuturnya.
Pesan itu terasa tulus dan dalam, mencerminkan filosofi kerja keras yang dipegangnya selama bertahun-tahun.
Baca juga: RG Ecoprint, Kerajinan Daun yang Membawa Keindahan Alami ke Dunia Fashion
Bien Craft mungkin berawal dari rumah kecil di Mojosongo, namun semangat dan ketekunan yang mengalir dari sosok Liem Bien menjadikannya contoh nyata bahwa UMKM bisa tumbuh dan menginspirasi, satu langkah kecil demi satu langkah berikutnya.
Cek Artikel dan Berita lainnya di
(Cynthiap/Tribunshopping.com)