TRIBUNSHOPPING.COM - Di tengah arus ekonomi kreatif yang terus berkembang, inovasi dalam kerajinan tangan menjadi kunci bagi banyak pelaku UMKM untuk tetap eksis tanpa harus mengeluarkan modal besar.
Salah satu pendekatan yang menarik adalah memanfaatkan kain bekas atau kain perca sebagai bahan utama.
Dengan kreativitas dan ketekunan, perajin mampu mengubah potongan kain yang tampak sederhana menjadi karya bernilai tinggi, mulai dari aksesori, tas, hingga dekorasi rumah yang unik dan fungsional.
Baca juga: Kinarya Aksesoris: UMKM Solo Olah Perca Batik dari Modal Rp 35 Ribu hingga Bertahan Lewat Handmade
Contoh nyata dari semangat ini terlihat pada UMKM seperti Kinarya Craft dan Malessa Fashion Craft, yang berhasil mengembangkan usahanya dengan bahan kain perca.
Mereka membuktikan bahwa ketekunan, kreativitas, dan inovasi bisa menjadi modal utama dalam membangun bisnis kerajinan yang berkelanjutan.
Dengan proses pembuatan yang teliti dan desain yang menarik, produk-produk dari kedua UMKM ini tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan sosial yang tinggi.
Dalam artikel ini, kami akan mengajak Anda menyelami kisah inspiratif Kinarya Craft dan Malessa Fashion Craft, mulai dari awal mereka memanfaatkan kain perca hingga produk kerajinan mereka dikenal luas.
Baca juga: Malessa, Memadukan Karya Fashion dengan Keindahan Tradisi dan Inovasi Kreatif
Kinarya Craft: Mengubah Kain Perca Menjadi Aksesoris Bernilai
Kinarya Aksesoris membuktikan bahwa kreativitas mampu mengubah sesuatu yang sederhana menjadi produk bernilai tinggi.
Usaha kerajinan ini dirintis oleh Lilik Herlinawati, yang memulai perjalanan hanya dengan modal Rp35.000 untuk membeli kain perca.
Dari bahan sisa yang sering dianggap tidak bernilai, Lilik justru melihat peluang besar untuk menciptakan aksesoris unik yang memiliki daya tarik estetika dan nilai jual.
“Ini saya mengolah perca batik, jadi aksesoris, jadi topi, jadi dompet, jadi kalung batik, jadi bros batik, seperti itu,” ujar Lilik saat diwawancara Cenderaloka pada Senin (8/12/2025).
Perjalanan Kinarya Craft tidak terjadi dalam waktu singkat.
“Terus mulainya itu sekitar, saya sudah lama sih sebetulnya dari 2012 ya, jadi sudah yang dulu sama Javenir,” tuturnya.
Walau sempat berkembang melalui kerja sama dengan ritel modern seperti Transmart Carrefour pada 2016, pandemi Covid-19 sempat menghentikan laju usaha.
“Tapi terhenti karena covid ya, tahun 2019 itu covid, barang kita baik yang di Jawa maupun di luar Jawa dikembalikan semuanya, jadi saya mengulang dari awal lagi, seperti itu,” ungkap Lilik.
Dengan modal awal yang terbatas, Lilik berhasil menciptakan nilai jual tinggi dari kain perca. “Dari 35 ribu itu bisa jadi produk itu banyak sekali yang nilainya jadi berlipat,” jelasnya.
Malessa Fashion Craft: Perca untuk Pemberdayaan dan Fashion
Sementara itu, Malessa Fashion Craft, yang dipimpin oleh Madu Mastuti, memanfaatkan keterampilan menjahit untuk membuka usaha fashion berbasis kain perca.
“Supaya kita itu sebagai kaum perempuan bisa memberikan hasil tidak hanya sekadar menjaga anak saja di rumah tapi kita bisa membantu perekonomian di dalam keluarga,” kata Madu.
Baca juga: Malessa, Inovasi Desain dan Kualitas Unggulan dalam Setiap Koleksi Pakaian
Madu fokus pada pemberdayaan masyarakat sekitar.
“Untuk proses menjahitnya, saya melibatkan warga sekitar. Misalnya, untuk produk daster sambung atau produk perca lainnya, saya memberikan bahan, dan mereka akan mengerjakannya di rumah mereka,” jelasnya.
Proses desain tetap dikontrol secara ketat: “Saya yang desain dan potong kainnya, kemudian diserahkan ke penjahit. Total lima penjahit, itu ada yang mengerjakan khusus untuk produk-produk tertentu, seperti batik premium, dan beberapa penjahit lainnya untuk produk masal seperti daster sambung atau craft.”
Selain itu, Madu berhasil memanfaatkan media sosial dan platform online untuk pemasaran, termasuk Instagram, TikTok, Shopee, dan bantuan dari Cenderaloka.
Dengan pemilihan bahan yang teliti, produk Malessa tetap memiliki kualitas tinggi, dari pakaian kasual berbahan rayon hingga produk premium dengan batik dan tenun lurik.
Kesamaan Strategi Kinarya dan Malessa: UMKM Kreatif dari Kain Perca
Kinarya Craft dan Malessa Fashion Craft sama-sama menunjukkan bahwa kain perca bukan hambatan, tapi peluang.
Kedua UMKM memulai usaha dengan modal terbatas, mengandalkan kreativitas dan ketekunan untuk menciptakan produk bernilai tinggi.
Baca juga: Bermodalkan 35 Ribu, Kinarya Craft Bertahan 10 Tahun di Dunia Kerajinan dengan Ketekunan
Baik Lilik maupun Madu mengelola proses produksi secara teliti dan handmade, memastikan setiap produk unik dan berkualitas.
Selain itu, keduanya berhasil memanfaatkan peluang pemasaran melalui kerja sama ritel, pameran, dan platform online untuk memperluas jangkauan pasar.
Kinarya fokus pada aksesoris dan produk fashion fungsional berbasis batik, sementara Malessa menggabungkan fashion massal dan premium dengan melibatkan pemberdayaan masyarakat lokal.
Kisah Kinarya Craft dan Malessa Fashion Craft menjadi inspirasi nyata bahwa UMKM kreatif bisa berkembang tanpa modal besar, dengan bahan sederhana seperti kain perca, ketekunan, dan inovasi.
Produk yang lahir dari tangan mereka bukan hanya bernilai estetika, tetapi juga memiliki cerita budaya dan sosial yang kuat.
(Cynthia/Tribunshopping.com)





Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!