TRIBUNSHOPPING.COM - Dispenser air merupakan alat elektronik rumah tangga yang hampir pasti ada di rumah, kantor, maupun tempat umum.
Fungsinya yang praktis untuk menyediakan air panas dan air dingin membuat dispenser bekerja hampir tanpa henti.
Tetapi, banyak pengguna tidak menyadari bahwa kebiasaan pemakaian yang keliru bisa mempercepat kerusakan dispenser air.
Kerusakan pada dispenser yang paling umum yakni pemanas air mati, sensor suhu rusak, atau kebocoran selang.
Dispenser rusak tak hanya disebabkan oleh faktor usia atau kualitas produk, namun juga oleh kesalahan dalam penggunaan dan perawatan.
10 Kesalahan Penyebab Dispenser Jadi Rusak
Patut dihindari, berikut ini adalah sejumlah kesalahan pemakaian yang paling sering menyebabkan dispenser air menjadi rusak.
1. Menyalakan Dispenser Tanpa Air/Galon
Salah satu kesalahan paling fatal yakni menyalakan dispenser saat galon air belum terpasang atau air di dalam tangki kosong.
Elemen pemanas pada dispenser dirancang untuk bekerja ketika terendam air.
Baca juga: 5 Rekomendasi Toko Elektronik Terlengkap dan Termurah di Tangsel
Apabila elemen pemanas menyala tanpa air, panas tidak bisa diserap dengan baik sehingga menyebabkan overheat atau panas berlebih.
Dalam waktu singkat, elemen pemanas dapat terbakar dan rusak permanen.
Kondisi tersebut juga bisa merusak sensor suhu dan menimbulkan bau gosong.
2. Tidak Mematikan Dispenser saat Tidak Digunakan
Banyak pengguna membiarkan dispenser terus menyala selama 24 jam penuh meskipun tidak digunakan.
Kebiasaan ini menyebabkan elemen pemanas dan pendingin bekerja secara terus-menerus.
Akibatnya, komponen internal menjadi cepat aus dan konsumsi listrik meningkat.
Dalam jangka panjang, hal ini bisa menimbulkan kerusakan pada thermostat, sensor suhu, dan sistem pendingin.
Baca juga: Cara Mudah Hilangkan Bau Bekas Bumbu pada Blender agar Tidak Merusak Rasa Jus Buah
3. Listrik Tidak Stabil
Dispenser air sangat sensitif terhadap tegangan listrik yang tidak stabil.
Penggunaan stop kontak yang longgar, kabel sambungan berkualitas rendah, atau tidak menggunakan stabilizer bisa menyebabkan lonjakan listrik.
Lonjakan tegangan ini berpotensi merusak modul elektronik, PCB (Printed Circuit Board), dan elemen pemanas.
Kerusakan akibat listrik sering kali tidak terlihat langsung, tapi dampaknya dapat muncul setelah beberapa waktu.
4. Jarang Membersihkan Dispenser
Kesalahan umum lainnya yaitu jarang membersihkan dispenser, terutama bagian dalam seperti tangki air dan saluran air.
Endapan mineral dari air minum, terutama air galon isi ulang, bisa menumpuk dan membentuk kerak.
Kerak ini menghambat aliran air dan memperberat kerja pemanas serta pendingin.
Selain itu, dispenser yang jarang dibersihkan juga bisa menjadi sarang bakteri dan jamur, yang berbahaya bagi kesehatan pengguna.
Baca juga: Cara Mudah Mencuci Tumbler agar Bersih dan Tidak Tinggalkan Bau
5. Menggunakan Air yang Tidak Sesuai
Sebagian pengguna mengisi dispenser dengan air selain air galon standar, seperti air mentah atau air yang belum dimasak.
Air dengan kandungan mineral tinggi atau kotoran bisa mempercepat pembentukan kerak dan korosi pada komponen logam.
Hal ini menyebabkan pemanas cepat rusak dan sensor suhu tidak bekerja secara optimal.
Dispenser dirancang untuk air minum yang telah melalui proses penyaringan, bukan air mentah.
6. Menekan Keran Dispenser Secara Berlebihan
Kebiasaan menekan kran dispenser dengan keras atau terus-menerus juga bisa menyebabkan kerusakan.
Kran dispenser umumnya terbuat dari plastik, sehingga mudah retak atau patah jika mendapat tekanan berlebih.
Selain itu, pegas dan karet seal di dalam kran bisa cepat aus, yang akhirnya menyebabkan kebocoran air.
Baca juga: Review Lengkap MiTO MD888 Digital Dispenser: Harga Terbaru, Kelebihan hingga Kekurangan
7. Memindahkan Dispenser saat Masih Terhubung Listrik
Memindahkan dispenser tanpa mencabut kabel listrik terlebih dahulu merupakan kesalahan yang sering terjadi.
Getaran dan guncangan saat dispenser dipindahkan bisa merusak sambungan kabel di dalam mesin.
Selain itu, risiko korsleting juga meningkat jika kabel tertarik atau terkelupas. Pemindahan dispenser sebaiknya dilakukan dalam kondisi mati dan kosong dari air.
8. Letak Dispenser Tidak Sesuai
Dispenser sering diletakkan di dekat kompor, terkena sinar matahari langsung, atau di area yang lembap.
Lingkungan seperti ini dapat mempercepat kerusakan komponen elektronik.
Panas berlebih dari lingkungan sekitar bisa memengaruhi kinerja sistem pendingin, sedangkan kelembapan tinggi dapat menyebabkan korosi dan korsleting pada bagian dalam dispenser.
Baca juga: Review Lengkap MITO Water Dispenser MD555 Sencha: Harga Terbaru, Kelebihan hingga Kekurangan
9. Tidak Memperhatikan Kapasitas Dispenser
Setiap dispenser memiliki kapasitas pemakaian tertentu.
Mengambil air panas atau dingin secara terus-menerus tanpa jeda membuat mesin bekerja lebih keras dari seharusnya.
Kondisi ini menyebabkan motor pendingin dan elemen pemanas cepat panas dan akhirnya rusak.
Pengguna seharusnya memberi jeda waktu agar sistem dapat bekerja secara normal.
10. Mengabaikan Tanda-tanda Kerusakan Awal
Banyak pengguna mengabaikan tanda-tanda awal kerusakan seperti suara mesin yang lebih keras, air tidak terlalu panas atau dingin, atau muncul bau tidak sedap.
Jika tanda-tanda ini tidak segera ditangani, kerusakan kecil bisa berkembang menjadi kerusakan besar yang memerlukan biaya perbaikan tinggi atau bahkan penggantian unit.
Kerusakan dispenser air acap kali bukan disebabkan oleh cacat produk, tetapi karena kesalahan pemakaian yang berulang dan kurangnya perawatan.
Dengan memahami dan menghindari kesalahan-kesalahan tersebut, umur pakai dispenser akan lebih panjang dan biaya perawatannya pun bisa ditekan.
Penggunaan yang tepat dan perawatan rutin menjadi kunci agar dispenser air tetap berfungsi dengan baik dan aman digunakan dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TribunShopping.com/Nina Yuniar)




Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!